Langsung ke konten utama

Keajaiban Syair dari Do’a dan Cinta





4
Langkah Awal yang Berjalan Mulus




       M endengarkan hal itu, aku kemudian berjanji kepada Adi untuk menuntaskan masalah yang sedang dia hadapi pada saat ini. Pada esok hari aku akan memulai penyelidikanku karena tak mungkin memulainya pada saat sekarang mengingat aku dan teman-teman sudah terlalu letih setelah seharian  penuh mempersiapkan penampilan kami pada festival musik tadi.
            Tak terasa perjalanan selama 30 menit kini t’lah berakhit. Akupun sudah tiba di rumah sekarang setelah sebelumnya aku mengantarkan teman-temanku ke rumahnya masing-masing. Aku parkirkan mobil kesayangan keluarga di garasi dan langsung menemui orang tuaku berbincang sebentar dan lalu masuk k edalam kamar dan melakukan kebiasaan yang sering aku lakukan sebelum aku pergi tidur ke kamar tidurku. Mulai dari gosok gigi dan semacamnya.
            Aku sering menyimpan kisah-kisah orang yang pernah aku bantu di dalam sebuah note book kesayanganku. Kebanyakan berisikan tentang percintaan, persahabatan, konflik keluarga dsb. Semua itu berasal dari daerah asalku bahkan sampai pulau tertimur di Indonesia.
            Ketika aku sedang menikmati aktifitasku, telpon genggamku berdering dan ternyata ada sebuah pesan singkat yang masuk.
            “Assalamu’alaikum Wr. Wb. hai Ihsan! Aisyah di sini, Ihsan pasti capekkan pulang malem sehabis festival? Aisyah ucapin met istarahat ya & banyak terima kasih untuk hari ini, karena hari ini aku banyak sekali mendapat kebahagiaan.”
            Aku tak menyangka bahwa dia langsung mengirimiku pesan yang berupa ungkapan perhatiannya padaku. Lalu aku membalas pesannya seraya tersenyum sendiri seolah memandang wajahnya.
            “Walaikumsalam Wr. Wb. hai juga Aisyah! Iya nih aku memang sedikit capek. Kamu juga istirahat ya ‘kan kamu juga sama kayak aku. Sama-sama Aisyah, aku juga merasakan hal yang sama.”
            Setelah aku tulis kisah yang telah aku alami hari ini dan seraya mematikan note bookku dan langsung berselimutkan kain dan pergi tidur.
            Keesokan harinya aku memulai aktifitasku di SMAN 11 sebagai seorang pelajar dan kembali menimba ilmu untuk masa depanku.
            Seperti biasa aku bangun pagi, mandi, ganti pakaian, sarapan, pamit lalu pergi sekolahan.

Ж Ж Ж

        Ketika aku sampai di depan gerbang sekolah, ternyata Adi telah menungguku untuk menceritakan masalahnya kepadaku sembari berjalan menuju ruang kelas. Ternyata masalah yang dihadapi oleh Adi yaitu masalah seorang gadis yang telah ia taksir selama dua tahun ini. Namun yang menjadi pokok masalahnya adalah untuk sekedar menyapa saja dia tak berani apalagi kalau mengajaknya untuk mengobrol ringan.
            Setiba di kelas aku dan Adi mulai membahas masalah yang sedang dia hadapi. Saat itu untungnya jam pelajaran sedang kosong dan kami memang duduk satu meja jadi mudah bagiku untuk bertanya padanya. Aku mulai menanyai Adi tentang gadis yang dia taksir. Aku mendengarkan detil-detil yang menjadi pokok masalah.
            “Jadi begitu ceritanya, kalau boleh tau nama gadis yang kamu taksir itu siapa dan apa aja yang kamu ketahui tentang dia?” Tanyaku kepada Adi sembari mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjukku.
            “Eee... namanya Dwi Imelda, anak XI IPA C, kebiasaan yang sering dia lakuin.. eh.. yang ku tahu sih kalu dia itu sering banget kekantin apalagi pas istarahat, karena dari sanalah aku bisa melihat wajahnya meski dari jauh. Hehehe...” Jelas Adi dengan malu-malu.
            “Oke bro, aku coba semampuku ya dan doain aku ya smoga aku bisa mengorek banyak informasi dari dia.” Sambil menjabat tanganya dan setelah itu kami mulai membahas tentang musik kembali.

Ж Ж Ж

        Di hari yang sama aku mulai melakukan pendekatan dengan orang yang Adi taksir yang semula aku juga kurang mengenal orang tersebut. Berbekal hanya nama dan sedikit informasi dari Adi, aku bergegas menuju kantin ketika waktu istirahat karena Adi tau bahwa tiap waktu istirahat dia pasti ke kantin untuk membeli makanan yang sekedar mengganjal perut.
            Seperti hal yang biasa aku lakukan 1 tahun yang lalu. Aku mulai menegurnya dan langsung mengajak berkenalan dengan menggunakan sedikit informasi tentang dia. Perlahan namun pasti aku mulai memberikan pertanyaan yang ringan dengannya mulai dari mengajak kenal, bicara tentang hobi sampai dengan hal yang tidak ia sukai. Secara diam-diam aku merekam pembicaraan kami dengan perekam yang berada di ponselku. Sempat dia bertanya untuk apa aku menanyakan hal itu kepadanya. Namun bagiku yang memang sudah berpengalaman itu menjadi hal yang mudah. Aku hanya menjawab dengan gaya yang santai dan tanpa nada yang menimbulkan maksud yang mencurigakan. Kemudian tanpa sengaja aku melihat Adi yang berada di kajauhan yang sedang bersembunyi di balik pohon.
            “Eh bentar aku belum tau nama kakak? Rasa-rasanya wajah kakak juga familiar di sekolah ini.” Imelda menanyaiku secara tiba-tiba.
            “Oh iya ya. Maaf ya kakak udah ngga’ sopan. Nama kakak M. Ihsan Ramadhan, kakak anak XII IPA A.” Jawabku yang langsung disambut dengan kalimat terkejut dari Imelda. “Kak Ihsan ya? Kakak ‘kan seorang pemain band dan kakak juga di kenal sebagai L.D  kan?”
            “Iya kok kakak pemain band di SMA ini tapi dari mana kamu tau kalau kakak seorang L.D? itu kan dulu sekitar 1 tahun yang lalu kakak jalani.” Tanyaku sambil kebingungan.
            “Iya donk, aku kan ngefans sama kakak, aku dapet kabar itu dari mbakku yang pernah kakak bantu, namanya mbak Irina?” jelas Imelda.
            “Oh, kamu adiknya Irina ya? Dia kakak kelas kakak dulu. Oh pantesan aja, kakak jadi inget. Kalau ngga’ salah masalahnya tentang antara pacar dan sekolahkan? oh iya gimana kabarnya mbak Irina dan pasanangannya yang sekarang?” Tertawa saat aku berbicara dengannya dan sama sekali aku tak menyangka bahwa dia adalah adik Irina siswi kelas XII IPA tahun lalu di SMA ini.
            Aku mengingat kembali masalah yang terjadi di sekolah ini dan juga dialami oleh Irina dulu. Masalah yang sangat rumit sampai-sampai melibatkan kepala sekolah, staf guru bahkan pihak yang berwajib. Masalah yang dia hadapi tidak lain adalah masalah tentang tingkah laku remaja yang diluar batas. Sebelumnya dia seorang siswi yang terbaik namun perilakunya berubah menjadi tidak karuan karena pengaruh dari pacarnya yang bersasal dari lingkungan yang buruk. Namun untungnya aku bisa memecahkannya dengan secepat mungkin kalau tidak mungkin Irina sudah dikeluarkan dari sekolah karena kepala sekolah waktu itu salah paham atas kejadian pada saat itu dia ditawan oleh pacarnya karena Irina menyembunyikan salah beberapa paket barang haramnya di wilayah sekolah. Irina ditawan entah di mana namun yang jelas berada jauh dari ruang guru dan kepala sekolah. Kepala sekolah mengira Irina ikut menggunakan dan mengedarkan barang tersebut namun sebenarnya tidak karena dia hanya terjebak bujuk rayu laki-laki yang tidak bermoral itu.
            Aku dengan atas permintaan Dony yang juga satu angkatan dengan Irina menyelidiki tempat di simpannya barang haram jenis ganja kepunyaan Bram (pacar Irina pada saat itu) yang di simpan salah satu ruangan sekolah oleh Irina. Saat itu kejadiaan berlangsung pada waktu bel kedua berbunyi tepatnya pada pukul 8.15 pagi. Keadaan sangat tak menentu, ketegangan bercampur kepanikan terjadi di sana-sini karena berita penyekapan Irina sudah di ketahui warga SMAN 11. Aku berinisiatif memberitakan kepada guru agar memulangkan siswa agar tidak terjadi korban karena tadi sempat terdengar beberapa kali letusan senjata api entah jenis apa itu. Kepala sekolah masih tidak percaya bahwa Irina disekap dan dijadikan sandera tapi setelah aku jelaskan dengan terperinci maka dia mempercayai kami dan melakukan hal yang terbaik untuk warga SMAN 11.
            Sebuah pesan singkat diterima oleh pak Ibrahim, kepala sekolah SMAN 11 yang berisikan pernyataan yang berisikan ancaman dan permintaan yang harus dituruti. Pesannya kurang lebih seperti ini.
        KALAU INGIN IRINA SELAMAT!!!! CEPAT TEMUKAN SUSU BUBUK YANG DISEMBUNYIKAN IRINA DISALAH SATU TEMPAT DI SEKOLAH INI SEBELUM JAM 9.00 PAGI INI DAN SIAPKAN KENDARAAN DI PARKIRAN DAN JANGAN COBA COBA MENGHUBUNGI POLISI ATAU APARAT HUKUM LAINNYA!!! KALAU MEMANG KALIAN MASIH SAYANG DENGAN MURID KALIAN INI!
        Pak Ibrahim lalu menghubungi kembali Bram dan menyepakati semua permintaannya.
            “Baik saya sanggupi permitaan kamu! Jangan sakiti Irina, saya akan segera menyuruh orang untuk mencari benda yang kamu inginkan.”
            “Well,,, well,,, kita liat aja nanti, kalo loe bisa nyanggupin maka Irina bakal baik-baik saja. And perlu gue tambahin kalau yang nanti yang bakal nyari itu cuma dua orang en ngga’ ada satu pun guru yang gue lihat mencari atau mendekati gue. Ngerti? Satu lagi, cuma satu orang yang ngebawakin susu gue tadi ke gue di suatu tempat!”
            Setelah percakapan singkat itu. Pak Ibrahim menyuruh wakasek untuk mencari dua orang murid untuk mencari barang tersebut dan salah satu diantaranya harus mengantarkannya sebelum waktu yang di tentukan.
            Aku dan Dony mengambil resiko mengajukan diri untuk mencari barang itu di sekolah yang sangat luas itu. Awalnya pak Ibrahim keberatan namun setelah mendengar perkataan wakasek, pak Yusuf yang menjelaskan bahwa kami sudah dilatih oleh pihak militer KOSTRAD pada saat persiapan perlombaan Pramuka tingkat nasional.
            Izin telah diberikan, maka kami bergegas menyisir wilayah sekolah kami memulainya dengan menganalisa dimana tempat yang memiliki kemungkinan di sembunyikannya barang haram itu oleh Irina. Ada beberapa tempat yang stragis dimana dengan mudah bagi Irina menyembunyikan barang haram itu. Diantaranya ruang kelas X-XII, WC wanita, Musholah, belakang kantin, loker ganti cheer leaders  dan anak basket, dan yang terakhir di ruang guru.
            Secara cepat dan sigap kami mencari dari ruang kelas X-XII namun hasilnya nihil, kami menyusuri WC wanita pun sama saja. Mushola, belakang kantin, loker ganti cheer leaders atau pun anak basket tidak ditemukan satu petunjuk pun.
“Jika kamu bisa menyingkirkan beberapa kemungkinan yang salah.
Kemudian setelah kamu bisa melakukannya maka kamu akan menemukan sebuah kebenaran yang sebenarnya.” (Sir Arthur Conan Doyle)
            Tinggal satu kemungkinan yaitu di ruang guru yang sebelumnya kami anggap tidak mungkin. Tapi Dony pernah melihat Irina sering mendapatkan jadwal piket untuk membersihkan tempat wali kelasnya di ruang itu baru-baru ini. “Asataga! Ini sangat gawat waktu kami tinggal 10 menit lagi.” Aku mulai berfikir keras. Dalam fikiranku barang itu pasti berada di sana karena aku pernah mendengar perkataan wali kelas mereka yang mengatakan bahwa kenapa ada bubuk putih yang aneh di dalam mejanya pada saat itu hanya ada aku yang sedang mengambil buku pelajaran murid XI IPA A dan ibu itu sedang sendiri menunggu jam mengajarnya tiba. Merasa firasatku itu benar, maka dengan tergesa-gesa kami langsung menuju ke ruang guru tepatnya ke meja wali kelas Dony dan Irina berada. Kepala sekolah dan Wakasek yang berada disana awalnya terkejut mendengarkan argumenku, lalu mereka menyilahkan kami untuk mencari barang itu disana. Sama sekali tak terfikir bahwa bubuk putih itu adalah heroin yang disimpan Irina.
            Ternyata benar tepat seperti apa yang dikatakan oleh tuan Sir Arthur Conan Doyle seorang pengarang novel detektif yang sangat terkenal Sherlock Holmes. Barang itu berhasil ditemukan lalu aku meminta agar aku saja yang mengantarkannya karena aku sudah tau dimana tempat Bram menawan Irina. Dengan berat hati pak Ibrahim menyuruhku untuk pergi kesana. Aku pergi seraya berkata, “Tak usah khawatir, aku pasti akan baik-baik saja!”
            Tampak dari kejauhan aku melihat Bram dan Irina ditempat yang sudah aku duga yaitu tempat parkir. Mereka pasti menunggu disana karena Bram akan langsung melarikan diri setelah barang itu dia terima.
            Ternyata memang kedatanganku sudah ditunggu oleh Bram, karena kedatanganlu disambut dengan todongan senjata api jenis revolver kaliber 2” yang sering digunakan oleh pihak kepolisian dan mayoritas senjata jenis ini berisikan 6 butir peluru dengan kecepatan tembak rata-rata 20km/s. Kemudian Bram menyuruh Irina yang sudah terlihat ketakutan dan tertekan mengambil barang haram yang kini berada di tanganku.
            Irina mengambil barang itu dari tanganku dengan tangan yang gemetar. “Semua ini akan segera berakhir dan mbak akan kembali tersenyum.” Ucapku memberi semangat pada Irina yang langsung menemui Bram untuk menyerahkan barang haram itu dan sesuai kesepakatan bahwa Irina bebas dari belenggu Bram.
            “Dasar manusia tak berhati!” Bram menarik Irina untuk naik di atas sepeda motornya. Sontak aku pun mengejar mereka. Bram menembakkan tiga buah peluru kearahku. Nyaris kaki kananku tertembak namun untungnya aku dapat menghindar sehingga aku bisa kembali mengejarnya. Jarak dari parkiran ke pintu gerbang lebih kurang 25 meter dan jarak aku dan Bram sekitar 10 meter. Artinya kami punya waktu kurang dari 10 detik untuk menangkapnya. Kemudian aku harus menghindari peluru dari senjata api yang Bram pakai yaitu jenis magnum yang berisi 6 peluru itu. Untungnya dia telah menembakkan pelurunya sebanyak 5 butir, 2 saat menunjukkan lokasi dan 3 saat menembakku tadi. Kondisi Bram saat ini sangat emosional hal itu memudahkan aku untuk menghindari 1 butir peluru terakhirnya.
            “Binggo!” di dekatku ada sepotong papan yang cukup melidungiku sekali tembak. Bergegas aku berlari mengejarnya dengan secepat mungkin. Jika tidak aku akan tertinggal oleh mereka.
            Jarakku sudah semakin dekat dengan mereka kurang lebih 5 meter. Sesuai dengan perkiraanku, Bram akan menembak jika dia dalam kondisi terdesak. Bram melepaskan peluru terakhirnya padaku dan aku bersiap untuk menahanya dengan papan yang telah aku persiapkan sebelumnya. Peluru itu tepat mengenai papan tapi celaka bagiku. Ternyata Bram memiliki satu butir peluru lagi dan papan yang aku gunakan tak mungkin lagi untuk menehan laju peluru itu.
            Sungguh aneh Bram yang semula ingin menembak terjatuh tanpa sebab yang jelas bersama Irina. Tak lama setelah itu baru aku ketahui ternyata aku memang beruntung di hari itu karena Dony telah menaburkan paku di jalan gerbang sekolah. Bram yang membawa sepeda motornya dengan kecepatan tinggi terjatuh beruntung irina terpental ke rerumputan taman sekolah. Dengan cepat kami aku bergerak membekuk Bram dan tak lama berselang Dony menyelamatkan Irina dan barang haram yang diinginkan Bram.
            Tak lama berselang polisi datang untuk menggiring Bram dan barang haramnya ke hotel Prodeo. Aku berserta yang lainnya juga ikut untuk dimintai keterangannya.
            Satu bulan setelah kejadian itu Dony dan Irina resmi berpacaran dan berniat untuk serius dalam arti kata mereka akan selalu bersama dan berfikir lebih dewasa. Sungguh hari yang melelahkan waktu itu.
            Kemudian pembicaraanku dan Imelda berlanjut.
            “Kabar mbak Irina sama kak Dony baik-baik aja, dia sekarang sudah bahagia banget dengan orang yang menyayangi dia dan dia sering cerita tentang kakak kalau kakak sudah nyelamatin hidup dia dan mempertemukan dia dengan orang yang bisa buat dia bahagia ” jawab imelda.
            “Ngga’ perlu gitu segala ah kakak jadi malu mendengarnya, hahaha...” Aku merasa sangat senang karena aku bisa membantu mereka pada saat itu.
            “Oh ya kak, kalau aku ada masalah aku boleh kan minta bantuan kakak? terus kakak masih mau ngga’ jadi L. Detective seperti kayak dulu, karena aku sekarang lagi suka sama seseorang.” Imelda pun memulai curhatnya padaku dan aku terkejut ketika dia mengatakan bahwa dia sedang menyukai orang lain.
            “Tentu! Dengan senang hati kakak pasti bantuin kamu. Iya kakak sekarang dah balik lagi jadi L. Detective. kalau boleh kakak tau siapa orangnya?” Aku coba mencari informasi tentang orang itu.
            “Orangnya pasti kakak kenal.” Jawabya, lalu Bel masuk tanda pelajaran pun berbunyi.
            Walau waktu yang aku dapatkan terlampau singkat tapi aku sudah cukup mendapatkan informasi yang aku butuhkan untuk menentukan langkah apa yang harus aku ambil agar Adi dapat mendekatinya walau yang sebenarnya yang aku tahu bahwa dia sedang menyukai seseorang yang belum aku ketahui siapa. Kami berpisah dan aku kembali menuju ke kelas untuk melanjutkan pelajaran.
            Saat pulang sekolah aku menceritakan dan memperdengarkan informasi yang aku dapatkan. Lalu aku meminta Adi untuk menunggu selama satu hari agar aku bisa menuntukan apa yang harus ia kerjakan. Aku harus berkerja hati-hati agar tidak salah langka.

Ж Ж Ж

Jangan ada kata menyerah atau kau akan menyesal pada akhirnya.
Karena dimana ada air yang mengalir dari celah batu disana pasti ada celah kecil yang membuat hal yang tak mungkin menjadi mungkin

~~~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rintik Hujan Bersenandung

Rintik Hujan Bersenandung Sayup... Suara lain terdengar ketika hujan turun membasahi bumi... Suasana ini yang dingin membuatku semakin terasa mengantuk... Namun...

Syair di Antara Ilalang

Angin simponi dikala senin pagi (Bag. 3) Kutipan: "cinta itu indah jika didasari dengan ketulusan dan keikhlasan. cinta itu mendatangkan kebaikan berupa semangat, kebahagiaan dan ketentraman hati jika kau menjalaninya dengan penuh kasih sayang, pengertian, keyakinan, kepercayaan, tanggung jawab dan setiap sikap dan sifat yang membaikkan hidupmu" "Namun jika kau meresa benci setelah kau mencintai, maka dapat ku pastikan bahwa cinta yang kau miliki bukanlah cinta yang tulus...." (Imam Setia Pratama,Ahf.)