2
Awal Cerita Hidupku Ketika Aku Mengenalnya
Grup band kami akhirnya tampil. Dengan penuh semangat, kami berusaha untuk memberikan yang terbaik. Di belakang panggung kami berdoa agar penampilan kami dapat maksimal dan dapat menghibur banyak orang, sebab segala sesuatu harus di dasarkan dengan doa.
Jika engkau merasa takut akan sesuatu hal yang telah kau lihat maka ketakutan itu hanyalah bayang keraguan yang akan membuatmu gagal.
Namun jika engkau merasa mampu lakukanya dan engkaupun yakinidi dalam hati, maka lihatlah apa yang kau harapkan akan terjadi dan mungkin, akan mendapatkan yang lebih.
Kata-kata itu yang selalu ada dihati kami dan dengan semangat ini juga kami bisa memberikan yang terbaik untuk semua orang yang menikmati lagu yang kami bawakan.
Seperti biasa Rahman mengucapkan kata sambutannya kepada semua orang termasuk dewan juri sebagai tanda terima kasih kami atas terselenggaranya acara ini dan telah memberikan kemudahan bagi musisi-musisi muda untuk mencapai keinginannya.
Tanpa panjang lebar, di atas panggung kami mulai menunjukan aksi kami dengan keahlian kami masing-masing, terkadang kami membuat orang lain tertawa dengan aksi panggung kami yang gila namun tetap dalam batas kewajaran..
Yang paling menarik adalah aksi panggung tiga temanku, yaitu si Ari, Rahman & Farid. Ari bermain gitar gaya gitaris tahun 70 puluhan. Terkadang dia menggoyangkan pinggul ke kanan dan kekiri bagaikan penari perut. Rahman sebagai vocal yang pemalu jika sedang bergaul dengan sesama teman sebayanya, berubah 180° apabila sudah di atas panggung prilakunya hampir sama seperti Ari bahkan lebih, dalam penampilan ini dia membuat gaya goyang tukul, goyang gergaji dan semacamnya. Rahman memang anak yang aneh dan gila namun hanya di atas panggung saja. Dan Farid sebagai bassis yang selalu menarik perhatian semua orang, karena dia seorang kidal dan skil permaianan bassnya memang tak diragukan lagi. Permaianan bass tangan kirinya selalu menarik perhatian banyak orang.
Lain halnya aku dan Adi, kami tak bisa kemana-kemana karena alat yang kami mainkan tak memungkinkan kami untuk beranjak dari tempat kami berada. Jadi kami hanya melakukan hal-hal yang sama mereka lakukan di tempat kami masing-masing.
Untungnya kami membawakan lagu yang kami ciptakan sesuai dengan aksi panggung kami. Yaitu lagu yang beraliran pop rock yang dipadu dengan aliran kosmik ala tahun 80-an, kalau tidak, mungkin saja kami sudah ditertawakan bahkan di cemooh oleh orang banyak karena aksi panggung kami yang kocak dan sangat memalukan karena tidak sesuai dengan lagu yang kami bawakan. Namun kami melakukan semua itu semata hanya untuk menghibur dan mendapatkan juara.
Ж Ж Ж
Di saat kami tampil aku merasa begitu sangat semangat. Entah bagaimana bisa itu terjadi yang ku tahu hanya.
Jika kau percaya akan kekuatan cinta yang sebenarnya, maka kamu akan mendapatkan kekuatan yang akan membuat sebuah ke ajaiban yang akan menjadi kenyataan
Semua itulah yang mungkin terjadi didalam diriku. Meski aku tahu kami baru saja kenal dan masih banyak yang harus aku kerjakan didalam ini selain cinta dari seorang kekasih, yaitu impian aku dan teman-temanku untuk menjadi grup band yang dapat menghibur dan dikenal banyak orang dan tentu saja membahagiakan kedua orang tuaku. Tapi mungkin dengan adanya seorang kekasih dihidupku dapat menambah semangat hidupku.
Kami sekarang sudah sampai pada penghujung lagu, dan sekaranglah tiba giliranku untuk menunjukan kebolehanku yaitu dalam permainan speed of finger atau kecepatan jari tangan yang memerlukan konsentrasi yang tinggi. Aku melirik kekanan dan kekiri karena gugup. Tanpa sengaja aku melihat Aisyah menyemangatiku dengan senyumnya yang manis. Hati pria mana yang tak bahagia apabila orang yang dia sukai memberi semangat padanya.
Dengan penuh percaya diri aku melakukannya dan Alhamdulillah aku berhasil melakukannya dan mendapatkan banyak sekali tepuk tangan dari orang-orang yang tak kukenal.
“Aksimu tadi keren banget Ihsan, aku sama sekali ngga’ ngira kalau kamu bisa ngelakuin aksi tadi padahal pas latihan 2 hari yang lalu kamu sering false? jangan-jangan dengan adanya cewek yang itu (menunjuk aisyah) kamu jadi semangat, bener ngga’?” tanya Adi ketika kami malakukan penutupan pementasan. Agak terkejut aku menjawab, “sejujurnya sih iya tapi jangan kasih tau anak-anak yang lain ya? karena aku baru aja kenal, entar malah jadi gosip yang ngga’ bener.”
Kami pun turun panggung setelah berbincang-bincang singkat host acara tersebut. Kembali aku dibuat salah tingkah, sungguh sangat tak menyangka aku dibuatnya katika dia melakukan hal yang sama yang aku lakukan dengannya tadi ketika dia turun panggung dan tak ayal sorakan teman-temanku mulai terdengar menggodaku.
Tanpa fikir panjang aku pun mengajaknya untuk makan siang dan dia pun mau menerima ajakanku. Maklum mungkin karena dia juga sudah lapar sama halnya dengan aku. kemudian meminta izin dengan teman-teman yang lain untuk jalan bersama Aisyah. Memang dasar teman-teman yang gokil, secara serentak mereka kembali menyoraki kami, “duh yang lagi ngedate! ngomong-ngomong kalo udah jadian jangan lupa traktiran ya?”. Sehingga kami berdua pun tersipu malu.
Terfikir dibenakku, kenapa Aisyah tidak marah atau sebagainya padaku saat teman-temanku menyoraki kami. Apa mungkin dia juga menyimpan rasa yang sama aku rasakan?
Ж Ж Ж
Saat kami berjalan aku dihadang seorang laki-laki yang kelihatanya mau cari gara-gara, aku pun coba untuk melindungi Aisyah. Tanpa aku sadari aku sudah memegang tangan Aisyah.
“hai.. kalian ! kayaknya serasi banget?” tanya laki-laki itu pada kami.
Aisyah menjawab dengan agak malu, “ngga’,! kami baru aja kenalan kok kak.?”
“kak Andri?” tanyaku heran
Aisyah kembali menjelaskan, “iya ini kak Andri pacar mbakku, mbak Fia, oh ya kak mbak Fia dimana? koq ga’ kelihatan dari tadi.”
“Oh... Fia tadi ke toilet. Kami sengaja kesini tadi soalnya kami tadi melihat adik tampil”, jawabnya “oh ya kakak ke mau nemuin Fia dulu ya. Dah kalian. Ehm,,,! pegangan tangannya mesra banget tuh, hahaha...” kak Andri pun pergi meninggalkan kami. Spontan kami berdua langsung melepaskan pegangan tangan kami dan kembali menuju tempat makan siang. Sekilas tubuh kak Andi memang sangat kekar sama halnya dengan seorang personil TNI yang sering aku lihat selama pelatihan 1 tahun yang lalu.
Ж Ж Ж
Apakah ini sebuah mimpi? begitu singkat waktuku untuk bisa mengakrabkan diri bersamanya. Aku merasa menjadi orang paling beruntung di dunia. Karena tak semua orang bisa mewujudkan impian yang baru saja dia dambakan.
Ketika kami berjalan berdua menuju kelantai dua ke tempat dimana aku biasa bersantap siang bersama teman-teman. Tanpa sengaja kami bertemu seorang anak kecil yang sedang menangis dan tampak kebingungan di dekat eskalator. Melihat anak itu kami pun mengurungkan niat kami untuk sementara demi untuk menolong anak itu. “Nama adik siapa? lalu kenapa adik menangis?” tanya Aisyah dengan lemah lembut. Sambil terisak adik kecil itu menjawab tanya Aisyah,”namaku Bimo mbak, aku lagi nyari mama.”
“Oh... adik lagi nyari mamanya ya? Kalau kayak gitu mbak temeni adik cari mamanya ya, gimana?” tanya Aisyah kembali. “oh ya Ihsan bolehkan?”
“Ya tentu aja boleh Aisyah, lagi pula aku seneng banget sama anak kecil” jawabku pada Aisyah. “Ayo adik kecil, kakak temeni nyari mama adik, mungkin mamanya adik lagi nyari adik juga?”. Hiburku.
“Makasih ya mbak dan kakak, aku pingin banget ketemu mama, tadi aku kepisah sama mama pas aku naik tangga berjalan.” Dengan agak tenang Bimo menceritakan kembali kejadian ketika dia terpisah dengan mamanya.
“Oh... jadi gitu ya ceritanya? Bimo ikut kakak ke tempat informasi ya, supaya kita bisa manggil mama Bimo dari sana, oke!” ajakku pada Bimo. “Tenang aja adik, kami berdua pasti akan nyariin mamanya adik.” Aisyahpun ikut menghibur. “Iya kak, Bimo ikut dengan mbak dan kakak.” Jawab Bimo.
Selanjutnya kami berjalan bersama menuju tempat informasi yang berada di lantai dasar. Saat kami sedang berjalan, kebetulan di dekat kami ada tempat yang menjual es krim dan aku berinisiatif membelikan untuk Aisyah dan Bimo. Aku amat bahagia melihat mereka berdua sangat akrab dan tersenyum bersama. Alangkah baik hatinya Aisyah sehingga aku pun bisa mersakan kasih sayangnya pada Bimo.
Akhirnya kami pun sampai dan aku pun segara meminta bantuan kepada petugas yang sedang berkerja untuk melaporkan masalah tentang anak yang kehilangan orang tuannya. Pemberitahuan tentang anak hilang sudah tersebar dan sekarang kami hanya sedang menunggu mamanya Bimo datang untuk menjemputnya.
Tak lama berselang, tampak dari kejauhan terlihat seorang wanita yang terlihat cemas datang dari kerumunan dan langsung memeluk Bimo. Terpintas dalam benakku bahwa dia adalah mamanya Bimo. “Bimo dari mana aja kamu nak? Mama khawatir banget sama Bimo. Lain kali jangan jauh-jauh dari mama ya !” ucap ibu kepada anaknya.
“Bimo tadi habis turun dari tangga berjalan, terus Bimo ngga’ ngeliat mama lagi, terus bimo nangis, terus bimo ketemu sama kakak dan mbak yang baik ini, Bimo aja tadi dibeliin eskrim.” Jawab bimo.
“Terima kasih banyak ya nak, ibu ngga’ tau lagi mau gimana kalau Bimo ngga’ ketemu soalnya Bimo satu-satunya anak ibu. Sekali lagi makasih banyak ya nak !” ucap ibunya Bimo yang masih cemas. “Sama–sama bu, sudah selayaknya kita saling tolong menolong satu sama lain.” Jawab aisyah dengan lembut. “Iya bu benar apa yang dikatakan oleh Aisyah.”
“Kalian berdua anak-anak yang baik. Kalian pacaran ya? kalau iya ibu doain semoga kalian langgeng sampai menikah ya nak. Amin... Ohya ibu pamit dulu ya ! Assalamuaikum...”. Kemudian mereka pergi meninggalkan kami berdua yang terdiam karena malu.
“Walaikum salam,” jawabku dengan wajah yang masih tersipu.
Akhirnya kami bisa meneruskan acara makan siang yang tertunda tadi ketempat yang sudah kami rencanakan sebelumnya. Setelah sampai kami pun makan siang, ngobrol bersama sambil bercanda tawa dan bercerita tentang pengalaman satu sama lain dan saling tukar-menukar nomor telpon masing-masing agar dapat berkomunikasi antara satu sama lain.
Dalam acara makan siang itu aku bertanya padanya tentang apa yang dikatakan mamanya Bimo tadi. Dia hanya menjawabku dengan senyuman. Aku tak tahu apa yang sedang dia fikirkan sekarang namun yang aku tau hanyalah kami telah menjadi sangat akrab dalam waktu yang singkat. Entah apakah ini terlalu cepat atau terlalu janggal akupun tak peduli. Aku sudah merasa nyaman dan tak ada sedikitpun rasa ill feel yang terasa disaat aku bersamanya, terlebih saat ku bayangkan kejadian sepintas lalu. Aku pun hanya tersenyum sendiri dan rasa tak percaya itu masih ada. Aku bisa menemukan wanita yang begitu cantik luar maupun dalamnya. Kecantikannya bukan hanya terpancar pada saat dia menghibur anak kecil yang sedang bersedih tadi tetapi dengan tutur sapa yang ramah dan bersahaja membuatku tak ingin berpisah darinya. Andai saja aku bisa menjadi kekasih nya...
Di dalam dunia ini tak ada kata yang tak mungkin, karena selama kita memiliki keinginan dan impian yang kuat apapun yang orang pandang sebagai sesuatu hal yang mustahil namun bisa kita capai dengan tekad dan semangat yang membara.
Ke ajaiban itu selalu ada di saat kita percaya pada keajaiban itu.
Komentar
Posting Komentar
Terima Kasih Atas Komentarnya. :)