3
Kembali ke Masa Lalu
Kami pun mengakhiri makan siang kami dan kembali menuju ke tempat pementasan yang masih berlangsung. Karena mungkin kami sudah ditunggu oleh teman kami masing-masing. Aku pun kembali kapada grup bandku dan Aisyah juga kembali ketempat grup band kakaknya. Dari kejauhan pun kami masih saling melihat satu sama lain.
“Ihsan..! Ihsan..! Woi Ihsan !? Dari tadi aku lihatin kamu ngelihatin cewek itu terus.” Tanya Ary. “Iya nih Ihsan... dari tadi pandangannya ke arah tu cewek? by the way dah jadian ya?” sindir Rahman padaku. “Kalian apa-apaan sih? Akukan baru saja kenal sama dia, jadi kami cuma temenan aja.” Jelas ku pada mereka berdua. “teman apa teman?” si adi pun ikut-ikutan.
“Iya deh aku jujur pada kalian semua kalau aku sebenarnya memang suka pada Aisyah, mana orangnya baik dan nyenengin banget.” Jawabku dengan perlahan.
“Santai aja lagi San, dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan.” Rahman memberikan aku semangat. Aku merasa sangat senang karena teman-temanku mendukung apa yang ingin aku lakukan.
Ж Ж Ж
Para dewan juri kini tengah berdiri di atas panggung dengan memegang daftar nama pemenang lomba yang telah mereka nemilih mana yang terbaik dari yang terbaik. Ternyata ini adalah saat yang membuat setiap peserta yang mengikuti lomba menjadi berdebar-debar. Karena hanya ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, yaitu menang dan kalah. Jika kami masuk kedalam kategori juara maka kami akan sangat bersyukur dengan apa yang telah kami lakukan selama ini mendapat hasil yang memuaskan. Namun jika kami gagal mendapatkanya maka berarti kami harus perlu banyak belajar dan berusaha lagi dan lagi agar menjadi yang lebih baik lagi.
Ketika salah satu juri menjelaskan tentang hasil yang telah mereka sepakati. Sontak suasana menjadi hening. Semua menunggu dengan hati yang berdebar-debar. Sekilas aku memandangi wajah Aisyah yang juga sedang berharap-harap cemas. Aku pun mendekatinya yang berada ditempat grup band kakaknya. Aku mencoba untuk membuatnya tenang. Aku pun memegang tanganya yang lembut dan seraya berkata,”tenang aja Aisyah, grup band Aisyah insya Allah akan juara. Penampilan Aisyah dan yang lainnya sangat menarik dan bahkan aku sampai-sampai terpana tadi. hahaha!”
“Yang benar San?” sahut Aisyah. “iya koq bener, aku jamin grup kalian pasti dapet juara.” Jawabku untuknya.
Sekarang waktunya pembacaan pemenang lomba Festival band yang dinantikan. “saya harapkan kalian dapat berjiwa besar untuk menerima kemenangan atau kekalahan yang akan kalian terima.” Ucap salah satu juri. Lasung saja saua umumkan. Pemenang ketiga pada festival musik tahun ini jatuh kepada grup ............ dhu – dhu five dengan jumlah nilai 805 poin.”
Aku dan Aisyah pun semakin cemas dan juri pun kembali mengumumkan pemenang selanjutnya karena pada festival kali ini hanya ada 3 grup saja yang mendapatkan juara.
“Untuk pemenang kedua pada kontes ini yaitu jatuh kepada....... fiolets dengan jumlah nilai 889 poin.”
Aku langsung bersorak gembira dan sama halnya dengan teman-temanku yang lainnya. Melihat aku tidak ada di dekat mereka. Mereka pun terkejut lalu mereka langsung menujukan mata mereka ke tempat aku dan Aisyah berada. Mereka menyuruhku untuk naik keatas panggung untuk menerima hadiah. Aku melepaskan perlahan melepaskan genggaman tangan kami dan naik keatas panggung kemudian melihat Aisyah. “Aisyah, kamu juga nyusul naik keatas panggung ya, aku tunggu loh !” ucapku memberi semangat. Aisyah hanya tersenyum kepadaku setelah melepaskan pegangan tangan kami.
Dan tiba kini untuk pemenang pertama pada festival ini. Dengan perasaan yang tegang, dewan juri meneruskan hasil yang mereka peroleh “Dan yang terakhir yaitu pemenang pertama pada acara festival kali ini adalah .... Snow pearl dengan nilai 890 poin.”
Aku sambut tangan Aisyah dengan perlahan untuk naik dan aku kembali tak menyangka kakak-kakak sepupu Aisyah juga mendukung apa yang aku lakukan dengan menyuruh Aisyah untuk naik ke atas panggung. Aisyah pun menyambut tanganku dan naik keatas panggung dengan rasa bahagia. Bukan hanya Aisyah yang bahagia aku pun juga sama, aku juga bahagia karena disamping grup bandku menjadi pemenang kedua, aku juga menemukan seorang yang telah membuat hidupku lebih berarti.
“Ihsan, aku seneng banget baru kali ini aku merasakan hal seperti ini? aku sama sekali ngga’ nyangka grup bandku bisa menang. Thanks banget Ihsan aku ngga’ tau mau gimana lagi ngungkapinnya ke kamu. Sekali lagi makasih banyak ya San.” Ungkap Aisyah padaku seraya meneteskan air mata tanda kebahagiaannya.
“Sama-sama Aisyah, aku senang bisa melihat kamu bahagia, kamu ngga’ perlu bilang kayak gitu, aku sudah bisa kenal denganmu pun aku sudah bahagia.” Jawabku padanya dan tersenyum. Saat trophy dan sejumlah uang itu dibagikan kami merasa begitu sangat bahagia. Bagi kami ini adalah kemenangan yang sudah lama kami inginkan setelah fakum selama 1 tahun dan bagi Aisyah adalah kali pertamanya mendapatkan juara pada bidang musik band.
Secara serentak kami mangangkat trophy itu dan ribuan tepuk tangan lalu menyertai kami. Aku tak menyangka setelah selama 1 tahun tidak menggeluti dunia musik kini kami bisa maju lagi walau hanya mendapatkan juara kedua. Itu pun sudah membuat kami bersyukur dan akan tetap berusaha menjadi yang terbaik lagi.
Waktu yang sebelumnya aku tak ingin terjadi kini terjadi. Saatnya aku dan Aisyah berpisah. Tapi ini bukan akhir tapi merupakan awal yang baru di dalam hidupku.
Aku bersama grupku dan Aisyah bersama grupnya pergi bersama menuju tempat parkiran di mana kami memarkir mobil kami. Di sana aku dan Aisyah berjanji untuk selalu berhubungan dan saling mengabari kabar kami masing-masing.
Sekali anak band yang gokil tetap saja menjadi anak band yang gokil tapi kali ini grup band kakak Aisyah juga ikut-ikutan. Karena kami berjalan berdua dengan begitu lambat maka mereka yang ada di depan kami menyoraki kami. “hei kalian...... enak banget tuh dua-duaan, minta traktirannya donk!? kan kalian udah jadian?” mendengar itu, kami pun sontak tersipu malu.
Kami pun berpisah dan beranjak menuju rumah kami masing-masing. Aisyah pulang semobil bersama sepupunya dan begitu pula halnya kami, mereka naik semobil denganku. Namun di dalam perjalanan pulang aku di mintai tolong oleh sahabatku, Adi untuk menyelesaikan masalahnya. Mereka tau bahwa dulunya aku adalah orang yang suka mengurusi masalah-masalah tentang cinta dan permasalahan tentang pribadi yang sedang dia hadapi. Namun kali ini aku sangat ditantang karena sudah lama aku tak mengurusinya dan kini sang L.D. beraksi kembali.
Ж Ж Ж
Aku memang menyukai hal-hal yang berkaitan dengan misteri baik kriminal atau tentang cinta yang selalu meliputi perasaan setiap insan manusia. L. Detective hanyalah julukan bagiku yang menyukai hal-hal seperti itu. L merupakan huruf yang memiliki sejuta makna yang tak mungkin diungkap sedang Detective merupakan salah satu istilah bagi orang yang melakukan suatu pencarian tentang sebuah kebenaran.
Komentar
Posting Komentar
Terima Kasih Atas Komentarnya. :)