Langsung ke konten utama

Syair di Antara Ilalang

Angin Simponi di kala Senin Pagi Bag.1           


Syair di padang rumput, mendengar nyanyian ilalang yang tertiup angin. Sunyi sendiri menguntai kata namun tak satupun terucap. Hanya tangan, hati, dan fikiran yang dapat membantuku menulis kisah ini pada lembaran-lembaran kertas di hamparan padang rumput. Di mana pada tempat ini, aku menemukan pendamping hidupku. Seseorang yg kudamba selama ini.

§ § §


Umpama melihat air di padang gersang ketika aku pandangi wajahnya.


§ § §

17 Januari 2030

         Namaku Ihsan Ramadhan bin M. Ihsan Hutama lahir di Desa Pangkalan Balai pada 17 Ramadhan 1434 H atau 1 Agustus 2013, aku sekarang masih bersekolah di pondok pesantren Dakwah Islamiah, palembang. Aku seorang anak tunggal dan kini aku sedang mempersiapkan diri untuk UANS dan mengambil beasiswa ke Universitas Al Azhar Indonesia. Kemudian aku perkenalkan Zahra Wardatunnisa binti M. Albait Nurul Fitroh adalah gadis remaja berusia 17 tahun yang sungguh amatlah cantik. Begitu anggunnya ia ketika ia berjalan, betapa lembut suaranya ketika berkata, begitu ramah ketika bercengkrama dengannya. Dirinya merupakan sosok remaja putri yang soleha. Pada masa ini sangat jarang ada wanita yang memiliki sifat yang sama seperti dia. Karena dialah aku ingin meneruskan kuliahku di sana disamping aku juga ingin mempelajari ilmu Niaga / Syariah secara Islam.

         Pagi yang cerah di kediamanku yang berada di jauh keramaian kota. Tempatnya sederhana dan begitu tenang di perkampungan daerah Talang Betutu. Semua masyarakat di sini ramah dan baik dengan keanekaragaman latar belakang budaya ataupun agama.

         Aku bergegas melangkah kan kaki menghampiri ayah yang telah siap di dibelakang kemudi mobil sedan putih yang sudah mulai tua tahun 2009. Aku kembali teringat akan kata-kata ayah dikala aku masih kanak-kanak dulu.
         "Ayo jagoan ayah! ayo kita berangkat!"
         "Baik, Ayah!"
         Aku membuka pintu mobil lalu duduk di samping ayah dan mengencangkan sabuk pengaman kemudian perlahan mobilpun melaju mengantarkan ku ke pesantren dimana aku mencari tahu akan segala macam ilmu.
         Dalam perjalanan aku mendengarkan lagu-lagu yang dulu pernah populer di masa ayahku bahkan sampai sekarang. Ayahku dahulunya adalah seorang musisi. Dia seorang keyboardist yang hebat di grup bandnya sampai pada akhirnya grup mereka tersebut memutuskan tuk berhenti sementara namun sampai kini, 5 tahun sudah, mereka tak kunjung tampil kembali."Impian" adalah salah satu lagu favoritku yang menceritakan kisah remaja yang merelakan kekasihnya untuk menggapai impiannya. 
         Aku menikmati setiap hembusan angin pagi yang begitu lembut, seakan-akan selembut belaian ibuku disaat aku kecil dahulu. Entah mengapa hal ini malah mengingatkan aku kepada dia.
         Betapa malunya aku ketika ayahku membuyarkan lamunan yang baru akan ku mulai.
         Dengan nada bercanda ayah menegurku, "Ayo! Kamu lagi ngelamun tentang apa? Tentang Zahra ya?"
         "Eh... Nggak kok yah, lagian siapa juga yang ngelamun" jawabku sambil menoleh ke arah luar mobil karena terkejut & malu.
         "Yang bener, padahal baru aja mobil kita berpas-pasan dengan mobil ayahnya tadi."
         "Yang bener yah? Mana? Mana?"
         "tuh kan bener?"
         Aku hanya bisa menahan malu ketika ayah menertawaiku.
         Tak terasa perjalan selama 20 menit kini telah berakhir. Ayah memarkirkan mobil tidak jauh dari gerbang pesantren tak jauh dari mobilku aku melihat Sabilul Akbar atau yang akrab ku sapa Sabil. Dia teman satu kamarku di Asrama putra. Tersenyum aku menyambutnya dengan lambaian tangan. Tapi di dalam hati aku merasa kasihan melihat dia yang kini sedang mengayuh sepeda ontel milik Almarhum ayahnya.
♫♫♫
Setiap yang terjadi di dunia dapat berubah tak selamanya orang akan berkecukupan dan tak selamanya orang akan mengalami kekurangan.

         Perkataan ustad Ahmad yang tak sengaja terbesit di benakku perlahan menenangkan kegalauan hati ini. Bergegas aku mengambil koper dan barang lainnya yang berada di bagasi. Namun tiba-tiba aku menjadi salah tingkah ketika kulihat Zahra kini tengah memasuki gerbang pesantren. Kemudian sebuah sentuhan mengagetkanku.
         "Astarghfirullahal'adzim, ya ampun Sabil kamu tu dah buat aku kaget tau. Bisa-bisa aku kena serangan jantung. Huh.."
         "Hahaha... Maaf deh Rama, aku kan cuma terbawa iseng. Tapi kamu lucu banget kalo lagi salah tingkah."
         "Iya, ya, aku maafin. Kamu kan sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri.”
         "E'hem, ada yang lagi kasmaran nih. Kenapa nggak kamu hibbah aja dia?"

         Aku terdiam dan tertawa, aku menjadi salah tingkah. Sampai-sampai aku hampir lupa berpamitan dengan ayah. Namun untunglah Sabil mengingatkan aku. Kemudian aku meraih tangan ayah dan sungkem kepadanya.

"wahai kau sang anak cucu adam pelindung hawa. Carilah olehmu seorang muslimah soleha yang mampu membangkitkan semangat hidupmu bukan nafsumu & jadilah pelindung baginya. Dan bagi kalian wahai kau sang anak cucu hawa peliharalah dirimu dari kaum adam yang akan merusakmu. Kau harus yakinkan dalam hatimu dan sujudmu bahwa dia itu adalah benar pelindungmu bukanlah penjerumusmu dalam nafsu setan yang kamu terbuai nikmat sesaat akibatnya."
.........

"Terlalu jauh untukku bisa menghibbahmu, Zahra".
         Kata-kata itu pun terucap dalam benakku. Belum saatnya aku memikirkan hal semacam ini. Yang terpenting dalam hidupku ini adalah bagaimana cara ku agar aku bisa memberikan hal yang terbaik untuk orang-orang yang menyayangi-ku.
         Kami berjalan perlahan melewati jalan setapak yang sebagian tertutupi oleh rerumputan. Suasana yang penuh keakraban antar santri membuat pagi ini terasa hangat. Kami bercakap tentang liburan kami, keluarga kami dan apa saja yang telah kami lakukan selama kami tidak bertemu. Percakapan mulai berubah ketika kami masuk ke dalam asrama. Aku mulai membahas kembali apa yang disarankan oleh Sabil tadi.
         "Bil, kayaknya terlalu jauh bagiku untuk menghibbah Zahra. Soalnya aku rasa aku belum mengenal dia dengan baik, bahkan keluarganya juga."
         “Jadi kamu masih kepikiran ya dengan ucapan aku tadi? Hahahaha”
         “Eh.. i.. iiya…”
         “Rama, Rama, kamu tetap Rama saudaraku. Sifatmu yang lugu inilah yang menjadikanmu begitu berbeda dengan santri yang lain.”
         “Maksudmu apa bil? Aku kurang paham apa yang kamu maksud tadi?”
         “Maksudku, aku tadi hanya bercanda saja Rama. Hahahaha…”
         “Dasar kamu ya, nanti tunggu aja pembalasanku”
         “Eit, jangan sampai menyimpan dendam. Ingat loh apa yang diajarkan ustad Rahman tentang masalah akhlak.”
         “Astargfirullah, maafkan aku ya Allah dan maafkan aku juga ya saudaraku.”
         “Iya, ya. Ana maafin”
         Bel tanda apel pagi pun dibunyikan. Secara serempak kami para santri berkumpul di lapangan madrasah yang cukup luas. Santri pria dan wanita dipisahkan. Hal ini dilakukan untuk menjaga batasan diantara keduanya. Tanpa perlu diatur oleh para ustad atau ustadzah, para santri telah mengatur sendiri tempat mereka dan kini mereka pun telah berbaris dengan rapi. Di sisi kanan terdapat barisan para santri pria dan di sisi kirinya terdapat barisan para santri wanita. Di hadapan kami terdapat para ustad, alim ulama dan para pendiri pondok pesantren ini.
                       ~~~bersambung....
http://ilalangbernyanyi.blogspot.com/2013/11/syair-di-antara-ilalang.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rintik Hujan Bersenandung

Rintik Hujan Bersenandung Sayup... Suara lain terdengar ketika hujan turun membasahi bumi... Suasana ini yang dingin membuatku semakin terasa mengantuk... Namun...

Keajaiban Syair dari Do’a dan Cinta

4 Langkah Awal yang Berjalan Mulus        M endengarkan hal itu, aku kemudian berjanji kepada Adi untuk menuntaskan masalah yang sedang dia hadapi pada saat ini. Pada esok hari aku akan memulai penyelidikanku karena tak mungkin memulainya pada saat sekarang mengingat aku dan teman-teman sudah terlalu letih setelah seharian   penuh mempersiapkan penampilan kami pada festival musik tadi.

Syair di Antara Ilalang

Angin simponi dikala senin pagi (Bag. 3) Kutipan: "cinta itu indah jika didasari dengan ketulusan dan keikhlasan. cinta itu mendatangkan kebaikan berupa semangat, kebahagiaan dan ketentraman hati jika kau menjalaninya dengan penuh kasih sayang, pengertian, keyakinan, kepercayaan, tanggung jawab dan setiap sikap dan sifat yang membaikkan hidupmu" "Namun jika kau meresa benci setelah kau mencintai, maka dapat ku pastikan bahwa cinta yang kau miliki bukanlah cinta yang tulus...." (Imam Setia Pratama,Ahf.)