Keajaiban Syair dari Do’a dan Cinta
(Rhyme Miracle of Pray and Love)
Cinta bukan hanya sekedar kata atau ungkapan yang hanya diucapkan ketika seseorang itu ingin orang yang ia inginkan menjadi miliknya dan berhak ia perlakukan semaunya. Cinta memiliki maknanya tersendiri dan memiliki makna yang tulus ikhlas dan juga suci. Terkadang orang sulit memahaminya sebelum ia sadar apa itu arti dari menyayangi dan juga perasaan kasih lainnya dalam ketenangan.
Namun jika kamu tetap juga sulit memaknainya dalam ketenangan maka biarkanlah pelajaran hidup dan juga waktu yang akan membawamu kedalam makna dari arti cinta itu tersendiri.
Imam Setia Pratama, Ahf
1
Siapakah aku?
Sebuah ungkapan hati dimana tiada kata yang mampu melukiskan selain kata-kata bahagia atau kata-kata benci. Semua tergantung apa yang mereka rasa dan mereka alami. Tanpa disadari, sering kali manusia membohongi diri mereka sendiri. Padahal, semua itu akan menyakiti diri mereka sendiri.
“Apakah memang benar manusia itu akan selalu munafik?”
Jikalau kamu tak mampu tuk berkata jujur untuk dirimu sendiri dan pada saat itulah kamu menjadi seseorang yang munafik, maka dengan begitu kamu akan menuai benih penyesalan dan dosalah yang kau dapati pada akhirnya.
Ж Ж Ж
Aku mencoba untuk memperkenalkan diriku sebelum aku menceritakan begitu banyak cerita dari orang-orang yang pernah berarti didalam hidupku. Kisah-kisah mereka kini aku abadikan dan aku bagi sebagai tanda terima kasihku atas begitu banyak pelajaran yang telah aku dapat dari mereka.
Namaku Muhammad Ihsan Ramadhan biasa dipanggil dengan sapaan Ihsan, usiaku kini 20 tahun. Aku seorang mahasiswa Universitas Sriwijaya jurusan Teknik Informatika yang menyukai hal-hal yang menantang, misterius, petualangan dan yang terlebih lagi aku sangat menyukai musik, karena hal ini sama halnya dengannya, seorang bidadari yang kini telah menemani hidupku, mengisi kekosongan direlung hatiku ini. Dengan musik kami ingin menyampaikan cita-cita kami, menunjukan pada semua orang tentang arti hidup yang sebenarnya. Baik tentang, kebahagiaan, semangat, keceriaan dan segenap rasa yang terlantun di dalamnya.
Semuanya dimulai pada saat senja di awal november pada saat musim hujan 3 tahun yang lalu disaat aku berusia 17 tahun. Aku bersama teman-teman mengikuti festival musik yang diadakan di sebuah tempat perbelanjaan besar tepatnya disebuah auditorium mall tersebut. Mereka adalah Ari Aditya (17thn) pemain gitar yang paling jahil dan juga selalu percaya diri dalam grup bandku. Walaupun dia begitu namun dia belum pernah merasakan yang namanya pacaran. Kemudian Adi Wiritma L (17thn) pemain drum yang paling akrab denganku dan sangat pemalu apabila bertemu dengan gadis, terlebih lagi dengan gadis yang dia sukai meskipun dia memiliki wajah yang tampan dan banyak dikagumi oleh kaum hawa lainnya. Selanjutnya Rahman Ataqwa (17thn) sebagai vokalis, dia juga sangat pemalu dan cendrung tampil biasa-biasa saja akan tetapi lain halnya apabila dia sudah berada di atas panggung, Penampilannya menjadi sangat berbeda dengan berpenampilan kocak namun tetap serius. Terakhir Farid Muharram (17thn) sebagai bassis yang pendiam, cool dan sangat ahli dalam alat musik yang dia pergunakan namun tetap asik diajak bercanda baik disaat latihan atau santai. Sedangkan aku sendiri sebagai seorang keyboardist. Kami terkumpul dari berbagai macam latar belakang yang berbeda namun memiliki cita-cita yang sama yaitu menjadi grup band yang bisa menghibur semua orang dengan karya cipta kami dan menjadi terkenal.
‘Fiolets (friendship, imagination, liberation, spirit)’. Yang bermakna semangat kebersamaan antar teman dan bebas untuk mengimajinasikan musik dengan jalan bermusik kami. Itulah nama band yang kami berikan untuk menyatukan kami di dalamnya. Sebuah perjalanan bermusik yang panjang telah menanti kami. Untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik dengan cara yang positif.
Ж Ж Ж
Ketika teman-temanku tengah mempersiapkan alat-alat perlengkapan band untuk pementasan kami di belakang panggung. Tanpa sengaja mataku melihat kearah seorang gadis yang begitu membuatku tak sanggup untuk berkata satu katapun. Aku terpana melihatnya, berparas ayu bagaikan bidadari surga yang berselimutkan kulit putih serta di balut pakaian yang tertutup kemudian bermahkotakan rambut hitam panjang yang indah dan ditambah dengan senyum yang manis. Kini dia sedang melintas di depanku sembari membawa sebuah tas yang berisikan keyboard di dalamnya. Dia memberiku sebuah senyum kecil namun aku hanya terdiam dalam khayalan semuku. Sampai akhirnya Adi menegurku sambil menyindirku.
“Duh yang lagi melamun?, kamu suka ya dengan cewek keyboardist itu? Boleh juga tuh seleramu San, hehehehe...!”.
Akupun tersadar dari lamunanku dan menjadi orang yang munafik karena aku hanya membohongi diriku sendiri dan juga Adi.
“Aku gak mungkin jatuh cinta dengan begitu mudahnya karena hidupku sekarangkan, hanya untuk musik”. Sahutku sambil membelakangi Adi.
Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa aku ingin berkenalan dengan dia tetapi aku tak bisa karena aku terlalu malu untuk berkata jujur. Aku yakin Adi mengetahui bahwa aku sedang membohongi diriku sendiri, karena mungkin persahabatan kami berdua yang telah terjalin selama lebih kurang 15 tahun yang lalu sehingga kami sudah mengetahui sifat kami satu sama lain. Bagiku Adi itu sudah sama seperti saudara kandungku sendiri.
Tak lama berselang kami berpindah tempat dari tempat awal kami yang sudah terlalu ramai dengan peserta yang lain. Kami berpindah tempat ke sayap kanan panggung sembari menunggu giliran kami tampil. Lalu sebuah nama grup band terdengar oleh telinga kami.
“Snow Pearl........! Silahkan naik keatas panggung!”
Sebelumnya aku tak peduli karena aku sedang meneruskan kembali tugasku untuk mempersiapkan alat yang akan aku gunakan nanti pada saat tampil. Namun apa yang terjadi? Ternyata nama grup yang dipanggil merupakan nama grup band dia, orang yang ingin aku kenal.
Aku terpaut melihatnya, dia sangat memukau sehingga membuatku tak beranjak sedikitpun dari tempatku berdiri untuk menatapnya. Ternyata memang benar apa yang diucapkan oleh Adi. Aku mungkin sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ah tidak! Tapi wajahnya mengingatkan aku akan seseorang dimasa laluku meskipun aku tahu itu mungkin saja bukan dia orangnya. Disisi lain meskipun mungkin dia bukan orang yang aku cari. Tapi setidaknya aku ingin berkenalan dengan dia. Akankah dia juga mengerti tentang apa yang kurasakan saat ini? Aku berharap hal itu bisa menjadi kenyataan karena aku ingin sekali mengenal dia dan berharap dia belum memiliki kekasih agar aku bisa menjadikannya sebagai teman, sahabat, dan berharap dia kelak mau menjadi kekasihku apabila Allah mengizinkannya. Tapi sayang, itu pasti sangat sulit terjadi dan hanya akan jadi khayalanku belaka. Aku terlalu takut untuk sekedar menyapa. Aku merasakan dia begitu sangat menawan sehingga membuatku jadi salah tingkah dan tak sanggup berucap satu katapun. Tidak halnya pada wanita yang lain yang pernah aku temui. Kali ini sangat berbeda.
Jangan kau biarkan sedikitpun keraguan di dalam hatimu. Karena keraguan hanyalah akan membuatmu selalu menjadi seorang yang pesimis yang akan berakhir pada kegagalan dan penyesalan.
Percayalah pada dirimu dan kemampuanmu serta selalu berfikir optimis maka kamu akan meraih apa yang ingin kamu raih.
Tanpa aku sadari fikiran itu terlintas dibenakku sehingga akupun memberanikan diri untuk berkenalan dengan dia. Dengan perlahan, aku ayunkan langkahku menuju ke tempat dia berserta teman-temannya menampilkan hasil karya cipta mereka yang tidak jauh dari tempat persiapan yang kami tempati. Aku menuju ke tangga balik panggung untuk menunggu sampai dia turun dari panggung setelah giliran grup mereka tampil dan melupakan tugasku sebelumnya.
Hatiku semakin sesak, jantungku seakan terus berpacu bagaikan kuda yang berlari kencang. Kenapa aku bisa begitu sulit untuk berkenalan dengan dia?
Cinta pandangan pertama adalah perasaan awal yang berupa rasa kagum, senang, nyaman, bahagia apabila melihat orang yang dia cintai dan cinta pertama selalu akan dikenang sampai kapan pun oleh orang yang merasakannya.
Aku kembali teringat kata-kata yang pernah aku ucapkan dahulu. “Kenapa aku bisa menjadi seperti ini? Padahal aku dahulu sering membantu masalah-masalah seperti ini dan kenapa pula aku tak bisa menyelesaikan masalah yang aku hadapi saat ini. Mungkinkah dia cinta pertamaku? Entahlah? Mungkin saja itu bisa terjadi karena selama ini aku belum pernah merasakan rasanya jatuh cinta pada seorang gadis seperti yang aku rasakan sekarang.”
Ж Ж Ж
Akhirnya setelah pementasan mereka usai aku mencoba mendekatinya untuk sekedar menyapa dan mengenal namanya. Tanpa sadar aku memberikan tanganku, tak ayal dia beserta teman-temannyapun terkejut. Beruntungnya aku, sambil tersenyum dia padaku, dia menyambut tanganku. Aku tertegun dan tak pernah menyangka bahwa dia memberikan respon yang baik denganku. Yang aku takutkan bukan hanya untuk bertemu dengan dia, tapi aku juga takut jikalau teman-temannya melarang aku untuk berkenalan dengan dia.
Memang benar pepatah yang diucapkan oleh orang-orang bijak, di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Teman-temannya tak ada yang menganggapku sebagai musuh mereka. Ternyata mereka orang-orang yang baik yang memberiku sebuah salam dan tepukkan bahu sebagai tanda pertemanan. Mungkin saja mereka menganggap aku ini temannya dia. Karena yang seperti aku lihat gadis ini merupakan personil band yang paling muda dalam bandnya. Aku hanya merasa heran melihat anak-anak Snow Pearl pergi meninggalkan kami berdua.
Ж Ж Ж
“Maaf, apa kita sebelumnya pernah bertemu? Halo yang ada disana? Ada apa kok cuma bengong. Kamu mau ngajak aku kenalankan?” Tanyanya ketika aku sedang merasa keheranan dan seketika aku terkejut dalam lamunan sesaatku itu.
“Eh... maaf ya aku jadi ngga’ enak sama kamu? Iya, aku memang mau ngajak kamu kenalan tapi aku dari tadi masih malu, soalnya kamu orangnya mirip seseorang yang pernah aku kenal, hahaha.....” aku menjawab sambil tersipu malu.
Salah tingkahku semakin menjadi saat aku melihat dia tersenyum dan tertawa bersamaku. Aku kembali merasa tak karuan jika aku memandangi wajahnya yang cantik itu. Kemudian aku lanjutkan kembali percakapan kami.
“Oh iya kenalin namaku Muhammad Ihsan Ramadhan dan kamu bisa panggil aku dengan nama penggilanku, Ihsan, salam kenal! seneng banget bisa kenalan denganmu.” Kataku sambil menahan malu dan memberikan tanganku untuk berjabat tangan. “Nama yang bagus, aku juga seneng bisa kenalan sama kamu, kamu orangnya lucu ya mau kenalan tapi suka bengong, ngga’ sama kayak kakak-kakak sepepuku di Band tadi. Aku selalu aja diomelin dan dianggap anak kecil ditambah lagi aku sering dimarahi. Huh dasar mereka?” Jawab Aisyah dengan agak kesal. “upss! Hampir lupa namaku Aisyah Muthiasyahri, salam kenal juga.” terusnya kembali sembari tersenyum dan menyambut tanganku.
Aku sejenak berfikir dan tersenyum padanya. Tak kusangka dia yang terlihat begitu dewasa dengan penampilannya di atas panggung, tapi masih menyimpan sifat kanak-kanaknya. Kali ini analisaku meleset, orang yang sebelumnya aku kira mereka itu teman-temannya ternyata adalah kakak-kakak sepupunya. Akan tetapi nama dan wajahnya selalu mengingatkan aku dengan teman masa kecilku yang selalu ingin aku kenal akan tetapi dia sering kali hanya diam ketika aku bercerita tentang tokoh kartun Rin Tin-Tin yang aku suka. Apakah memang benar dia Aisyah, teman dimasa kecilku yang selalu bersamaku dikala waktu pulang belajar di TK Angkasa dulu. Gadis kecil yang selalu aku temani disebuah ayunan kecil dan aku selalu duduk bersamanya menunggu dia dijemput di kala itu. Sampai pada akhirnya setelah kurang lebih 6 bulan aku mengenalnya, akupun harus kehilangan dia. Entah apa yang telah terjadi padanya semenjak itu aku mulai menanti saat-saat kembali bertemu dengannya.
Kemudian aku meneruskan kembali percakapan kami. Sembari mengajaknya berjalan-jalan disekitaran panggung festival tersebut.
“Ngomong-ngomong Aisyah, kamu sekerang sekolah dimana?” Aku kembali bertanya padanya.
“Kalau aku anak SMAN 1 Palembang, kelas XII IPA 1, dan itu kelas unggulan loh... kamu sendiri bagaimana?” Jawabnya dengan santai.
“Wow....! hebat donk! Kalau aku anak SMAN 11 Palembang, aku sekarang kelas XII IPA A Plus. Ternyata kita bisa cepat akrab ya. Aisyah orangnya asyik banget diajak ngobrol ditambah lagi kamu pasti orangnya pinter dan kayaknya kita udah pernah kenal lama.”
“Ngga’ pinter-pinter amat kok, aku cuma menghibur diriku sendiri aja kok. Eh kamu juga sama, jarang banget loh aku ketemu orang kayak kamu, habis temen-temenku banyak yang sering menggodaku padahal aku pingin banget loh San punya temen deket cowok kayak temanku waktu TK dulu. Tapi cowok-cowok disekolahku sekarang hanya menjadikan aku barang taruhan mereka saja.” Jawabnya dengan harap.
“Yang bener Syah? aku seneng bisa dengernya. Aku seneng banget loh kalau aku bisa jadi temen akrabmu soalnya aku juga berharap kamu mau jadi temenku akrabku juga” Jawabku, kemudian suasana hening sejenak. Aku mencoba untuk membaca keadaan dengan memandangi wajahnya. Namun disaatku sedang menikmati waktuku bersamanya, teman-temanku memanggilku untuk persiapan tahap terakhir dan bergegas aku berpamitan dan meminta Aisyah untuk melihat penampilan kami.
Ж Ж Ж
Andaikan saja aku diberikan sayap yang dapat membuatku terbang bebas lepas tanpa batas, maka aku lebih baik menolaknya.
Karena jika aku memliki sayap itu maka aku akan selalu melarikan diri bilamana masalah datang menghampiriku.

Komentar
Posting Komentar
Terima Kasih Atas Komentarnya. :)