5
T iba di rumahku yang indah. Aktifitas siang ini aku mulai dengan makan siang kemudian dilanjutkan dengan salat dan beristarahat sejenak. Sambil membaca buku aku berfikir bagaimana caranya agar Adi dapat mendakati Imelda tanpa harus bertemu langsung. Lewat pesan singkat itu bisa namun Adi tidak mau karena dia ingin bertemu langsung terlebih dahulu agar kemudian dia baru mau untuk berhubungan lewat sms. Selain itu masih ada banyak cara yang terpintas di benakku diantaranya yaitu dengan cara mempertemukan mereka dengan cara yang akan membuat mereka bingung. Yaitu dengan cara aku menyamar melalui via sms menjadi salah satu dari mereka dan mengajak untuk bertemu di suatu tempat. Aku fikir cara itu bisa aku pakai.
Aku pun bergegas keluar rumah mencari toko yang menjual kartu perdana yang baru. Karena nomor ponselku yang dulu sudah tersebar dan sudah banyak diketahui oleh banyak orang terlebih lagi Imelda juga sudah mengetahuinya.
Setelah aku menemukan nomor yang tidak mencurigakan. Aku lansung menggunakannya dan memulai rencana awalku yaitu menentukan waktu dan tempat yang bisa mereka berdua bisa bertemu. Hal ini sudah sering aku lakukan kepada orang-orang yang sebelumnya pernah aku bantu.
Langkah awal yang aku ambil yaitu mempelajari gaya sms Adi yaitu meliputi segi jenis huruf, angka dan simbol yang biasa dia pakai. Aku lakukan agar aku bisa mengirimkan pesan yang hampir sama dengan gaya sms yang biasa Adi pakai untuk selanjutnya aku kirimkan kepada Imelda. Setelah Imelda membalas maka aku akan mempelajari gaya smsnya dan mengirimi Adi pesan yang mirip dengan gaya sms Imelda.
h4i im3£d@ !
Ni aQ Ady t3m3Ny, k4k iHs4n,
Im3£da, aQ Pin9in b9t k3n4l dkt sM U,
U mW 9’ jD t3m3n dKt aQ?
Jk U mW aQ mW Qta kTmwn, 9mN?
L4w B£h Q tuNg9u k3DtngnMu ShbS p£9 Skul D1 TmN BlKn9 Sklh. Ok!1)
Pesan telah aku kirim ke Imelda dan sekarang aku tinggal menunggu pesan balasan dari Imelda. Mudah-mudahan dia mau untuk menerima ajakan dan mau datang menemui Ady. Tak lama setelah itu pesan balasan pun tiba.”
H@i Jg Kk
Kk k’Adi ya?
K’ bKnA qUh g’ Mo,
tP b5k aQ mW l€s jD g’ bS To kTmU b5k.2)
Mendengar hal itu, lalu aku mencoba untuk mencari solusi yang lain.
YwDh g’Pava,
aQ jg g’ mksæn ImElD@ koq.
Mav BL Kk tB2 xmx.3)
Aku kembali mengirimkan pesanku dan menyimpan kembali hpku kedalam saku celanaku dan kembali berfikir cara apalagi yang bisa aku lakukan.
Apakah ada cara yang bisa mempersatukan mereka. Kemudian aku keluarkan kembali hpku dan mengganti kartu. Lalu aku menghubungi Adi menyuruhnya untuk sementara bersabar dahulu.
Ж Ж Ж
Tiada aku sangka hal ini yang aku anggap mudah kini telah semakin bertambah sulit tapi tak mengapa karena aku yakin aku akan bisa menyatukan mereka dalam satu ikatan kekekasih walau sulit itu adalah tantangan yang harus aku taklukan. Adi memiliki karakter pemalu terhadap wanita dan Imelda memiliki karakter rada agresif jadi kemungkinan cocok itu besar. Sebab tak menutup kemungkinan mereka dapat bersama menjadi sepasang kekasih.
Setiba di rumah aku kembali melakukan kegiatan rutinku dan kembali membuka note bookku untuk mempelajari apakah ada file kasus yang hampir sama dengan yang sedang dihadapi Adi pada saat ini. Aku berharap aku bisa menemukan sesuatu hal yang dapat membantuku karena aku sudah lama tak melakukan pekerjaan seperti ini. Setiap kasus yang aku hadapi hampir semuanya aku catat di note bookku.
Detik, menit, jam telah aku lalui untuk mencarinya ternyata hanya ada 1 kasus dan itu pun sangat sedikit informasi yang aku catat. Aku teringat bahwa temanku yang meminta kasus dia agar tidak diberi tahukan dengan orang lain karena baginya hanya cukup dikenang dalam ingatan maka akupun menghapus data-data yang berhubungan dengan dia dan pasangannya.
Hanya sekedar nama yang tertinggal. Aku pun harus memulai kembali kasus Adi dan Imelda dari awal karena kebanyakan kasus yang aku biasa tangani yaitu dugaan perselingkuhan, mencari tahu informasi tentang kebiasaan seseorang atau data pribadi seseorang yang lagi falling in love atau yang paling ekstrim dan nekat. Kemudian ada pula turut serta dalam masalah orang lain tanpa adanya persetujuan dari salah satu pihak yang bertikai namun baru hanya sekali aku salah kapra dan selebihnya aku berhasil memecahkanya.
Ponselku berbunyi, ternyata ada panggilan masuk yang tak heran buatku termenung sebentar. Aku tak menyangka bahwa Aisyah yang menghubungiku. Dia mengabariku keadaanya sekarang lalu mengajak aku untuk bertemu disebuah perpustakaan. Dengan senang hati aku terima ajakan dia dan kemudian ide cemerlang terlintas. Kenapa aku tidak berdiskusi dengan Aisyah? Ditambah lagi kami bertemu di perpustakaan jadi aku juga bisa mencari buku referensi yang bagus untuk mencari jalan yang terbaik. Aku tak mau lagi bertindak gegabah karena semenjak peristiwa satu tahun yang lalu yang membuat aku memutuskan berhenti dari hobi yang aku sukai ini.
Aku mulai bersiap diri untuk bertemu dengan Aisyah yang katanya dia menungguku di sana. Lalu aku meminta izin kepada ibu yang sedang membersihkan guci kesayangannya di ruang tamu.
“Bu, aku minta izin pergi ke perpustakaan dulu ya? sebab ada temen yang sudah menungguku di sana.”
“Duh anak ibu ini mau kencan ya? kayaknya rapi bener paling biasanya pakai pakaian yang biasa-biasa aja kalau mau ke perpus. Ayo ngaku sama ibu?” Tanya ibu dengan menyindirku.
“Ah ibu bisa saja? Iya bu tapi dia bukan pacarku. kami masih jadi teman saja. Boleh ya bu?”aku menjawab sindiran ibu.
“Ya tentu aja boleh, tapi inget hati-hati loh.” Ibu menatapku dan mengibaskan lap yang dia pegang. “Eh anak ibu dah mau pacaran ya? katanya mau tamatin SMA dulu baru mau pacaran.” Sindir ibu lagi.
“Ih ibu ini bisa saja akukan jadi tambah malu. bu aku boleh pakai mobil ayah ngga’? kan lagi nganggur bu?” sambil menahan malu aku berbicara.
“Ya tunggu sebentar ibu ambil kunci mobilnya tapi inget ya ‘hati-hati’ bawa mobilnya apalagi kamu pergi bareng cewekkan?”
“Iya bu Ihsan pasti hati-hati bawa mobilnya.” Kemudian aku berpamitan dengan ibu dan langsung menuju perpustakaan yang jaraknya lumayan jauh dari kediamanku berada. Dengan mobil sedan carrola thn. 1990 berwarna putih yang sangat bersejarah untuk keluarga, band, dan aku sendiri. Akhirnya aku pun berangkat menuju perpustakaan.
Ж Ж Ж
Tak terasa aku mengendarai mobil sambil mendengarkan musik kini telah sampai di sebuah perpustakaan daerah di mana aku sering menghabiskan waktuku untuk mempelajari tentang kejiwaan, tentang sejarah orang-orang ternama, segala hal tentang musik dan ilmu yang lainnya.
Aku melihatnya sudah menungguku sembari membaca buku di ruang baca. Bergegas aku menemuinya di ruang baca dengan perlahan. Secara diam-diam aku mendekatinya dan mencoba mengagetkan dia dengan menutup matanya dari belakang dan untungnya dia tidak melihatku. Aisyah sontak kaget namun dia tidak teriak malah diam saja mungkin karena dia sudah mengetahui bahwa aku sudah datang. Kemudian Aku melontarkan pertanyaan.
“si eko makan udang, ayo siapa yang datang?”
“Si Asti main petasan, pasti yang dateng Ihsan.” Jawabnya dengan santai.
Aku membuka matanya dan langsung duduk di sampingnya.
“Aisyah sudah lama ya di sini? maaf ya aku datang terlambat sebab rumahku agak jauh dari sini.” Tanyaku sembari meminta maaf atas keterlambatanku.
“Sebenarnya aku sudah lama di sini, sejak pulang sekolah tadi. Aku tadi langsung kesini untuk baca-baca karena aku suka baca buku di sini dan juga aku di sini sudah jadi anggota Perpustakaan. Em.. Ya ngga’ papa San, kamu dateng terlambat karena kamu datang pun itu sudah membuatku seneng sekali.” Aisyah menjawab dengan lembutnya.
Mendengar hal itu aku merasa yakin bahwa kami sebenarnya saling menyukai satu sama lain dengan perlahan aku memandangi wajahnya yang sayu memandangku seolah dia ingin mengatakan sesuatu dengan tulus namun dia takut mengatakannya. Entah apa yang dia takuti yang jelas sekarang saatnya aku mencoba menghimburnya dan sembari mencari pemecahan masalah yang sedang aku hadapi pada saat ini tentang masalah Adi dan orang yang dia sukai. Mungkin ada baiknya aku bertanya dengan Aisyah karena dia kan seorang wanita yang aku rasa tepat untuk di mintai pendapatnya. Karena selama ini aku hanya melakukan penelitian dan tidak pernah bertanya langsung dengan wanita itu sendiri.
Keraguan sempat bersemayam di hatiku, namun aku mencoba untuk memberanikan diri. Yang aku takuti kalau-kalau dia nanti salah paham dengan apa yang akan aku tanyakan kepada dia tentang bagaimana pendapat seorang wanita tentang menilai seseorang pria yang sedang dia cintai dan bagaimana tanggapannya tentang pria lain yang mencintainya. Hanya hal itu saja yang ingin aku tanyakan kepadanya. “Setelah berbicara selama beberapa saat dengannya baru aku akan menanyakannya.” Ungkapku dalam hati.
Kami berbicara tentang bebarapa hal tentang pelajaran seputar persiapan UAN walaupun pelaksanaannya nanti masih sekitar 6 bulan lagi masa belajar. Untuk itu persiapan dari jauh-jauh hari sudah direncanakan agar lebih memudahkan dalam hal selanjutnya. Kami bahas demi satu per satu soal yang menyangkut mata pelajaran UAN. Dengan serius kami berdua belajar, berdiskusi, berdebat, bercanda, dan pusing bersama dan tak ayal kami saling meledek satu sama lain disaat kami berdua membahas soal itu. Aku mengalihkan pembicaraan terlebih dahulu agar bisa lebih mengakrabkan diri agar ketika aku bertanya tentang itu dia tidak terlalu terkejut.
Kami terhanyut dalam suasana seakan tak mengenal orang sekeliling kami, yang ada hanyalah aku dan dia. Tak ingin rasanya beranjak walau sesaat namun itu tak mungkin sebab tidak ada perjumpaan yang abadi selain dengan sang khalik.
Aku fikir ini saat yang tepat untuk membicarakan permasalahan yang sedang aku hadapi saat ini.
“Aisyah, aku ingin bertanya tentang sesuatu hal denganmu, bolehkan?” tanyaku saat aku memulai mencari informasi.
“Tentu aja boleh San. Memangnya kamu mau tanya tentang apa? kelihatanya serius betul.”jawabnya dengan agak heran.
“Jadi begini Aisyah, aku mau tanya kamu ‘kan sebagai seorang wanita tahu persiskan bagaimana rasanya kalau kamu lagi menyukai seseorang. Jadi aku meminta pendapatmu?” aku memulai pertanyaanku.
Aisyah termenung sejenak. Entah apa yang sedang dia fikirkan aku tak tahu. Yang terlintas dibenakku, dia kini sedang bingung kenapa bisa aku bertanya hal seperti itu dengannya.
“Hm... Kalau aku sebagai seorang wanita jika sedang menyukai seseorang biasanya sering salah tingkah, sering melamun bahkan tertawa sendiri apabila aku sedang melihat atau memikirkan orang yang aku suka.” Jawabnya kembali sembari tersipu malu padaku.
“Oh...! Jadi kebanyakan wanita bersifat seperti itu ya. Artinya ngga’ jauh beda ya dengan penelitian aku selama ini. Kalau wanita itu cendrung lebih sensitif dan salah tingkah jika orang yang dia sukai berada di dekat atau sedang melihatnya.” Jawabku dengan senyum dan kemudian Aisyah merunduk dan mengatakan perkataan yang membuatku terkejut. “Iya memang begitulah San kalau jadi wanita, rasanya sangat sulit untuk menyatakan rasa suka dengan lawan jenis karena aku sangat takut dengan namanya patah hati apa lagi untuk yang pertama kali.”
Apa benar Aisyah belum pernah pacaran selama ini? sebab yang aku tahu selama ini pergaulan anak remaja jaman sekarang sangat- sangat bebas dan tanpa batas. Ditambah lagi aku mengetahui bahwa sekolah tempat dia mencari ilmu sangatlah elit dan begitu banyak pria yang tampan dan kaya raya. Jika Aisyah memang berkata benar maka aku sangat senang menjadi seorang teman, sahabat, kekasih untuknya. Karena hati kecilku berkata bahwa dialah orang yang selama ini aku cari dalam hidupku.
Melihat Aisyah yang sedang merunduk aku pun sadar bahwa dia memang wanita yang baik-baik sebab tak pernah kulihat dia mengenakan busana yang kurang sopan. Meskipun dia tidak memakai jilbab namun penampilannya begitu sopan dan anggun. Dengan memberanikan diri aku memegang tangannya yang lembut itu untuk memberikan semangat dan kepercayaan kepadanya.
Aisyah tersenyum padaku dan dia memintaku untuk berjanji padanya agar selalu bersamanya. Aku yang telah menaruh hati padanya tak mungkin untuk menolak. Maka aku pun menyanggupi permintaannya.
Sebuah ide yang cukup bagus menurutku untuk Adi perlu coba. Kenapa Adi tak mencoba untuk memberikan hadiah kecil untuk Imelda secara rahasia. Dengan kata lain seperti penggemar rahasia. Mungkin itu berhasil.
Lalu aku menghubungi Adi dan memberikan tahukan tentang ideku itu. Adi yang mendengar itu lalu mengikuti saranku. Aku memberitahukan Adi makanan kecil / cemilan yang suka Imelda berupa coklat. Adi yang mendengar itu bersemangat dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa esok dia akan mencoba mendekati Imelda.
Ж Ж Ж
Jika engkau mampu untuk berkata tentang sesuatu kebenaran, maka engkau harus bisa mempertanggung jawabkan perkataanmu itu dengan perbuatan.
Jika tidak ! maka engkau tak lebih dari seorang pendusta & pengecut belaka.
Ж Ж Ж
Waktu terus berlalu, aku dan Aisyah yang telah larut dalam suasana kini harus meninggal perpustakaan. Aku berjalan bergandengan tangan dengannya serasa bagai telah menjadi sepasang kekasih. Pertemuan singkat beberapa waktu yang lalu kini telah menjadi suatu hubungan yang erat dan dekat.
Aku menawarinya untuk menghantarkannya untuk pulang ke rumahnya dan Aisyah menerimanya dengan senang hati. Tanpa aku sangka, dia mengajakku untuk berkenalan dengan keluarganya. Aku hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum dan berkata padanya bahwa dengan senang hati aku mau berkenalan dengan keluarganya.
Sering kali aku meliriknya. Mencuri pandang saat mengemudi ternyata sangat mudah diketahui. Dia yang mengetahui hanya tersenyum kecil padaku. Terlihat dari wajahnya dia sekarang sedang letih dan ingin segera beristirahat. Aku ingin sekali membuatnya nyaman ketika dia sedang beristirahat. “Hampir aku lupa, di dalam mobilku kan ada lagu-lagu yang berirama melankolis.” Kataku di dalam hati. Secara diam-diam aku memutarkan lagu-lagu yang sesuai untuk menghilangkan kepenatan.
Dalam suasana yang tenang dan nyaman kami berkendara kini harus segera berakhir karena kami telah sampai ditujuan. Yaitu rumah kediaman Aisyah. Rumah sederhana yang asri, penuh akan pepohonan yang rindang nan nyaman yang terletak jauh dari polusi dan keramaian perkotaan. Rasanya aku sekarang bukan berada di kota karena begitu sunyi dan damainya lokasi perumahan yang di huni oleh Aisyah dan keluarganya. Kedatangan kami telah disambut oleh seorang gadis kecil sedang bermain di teras rumah. Gadis kecil itu begitu sangat manja padanya karena baru saja kami turun dari mobil, gadis kecil itu langsung meminta digendong oleh Aisyah. Usianya mungkin sekitar 5 atau 6 tahunan terlihat dari tubuh dan tingkah lakunya.
“Aisyah ini adikmu ya? sepertinya akrab betul denganmu. Sampai-sampai dia tertidur di pelukanmu dalam waktu sebentar saja.” Tanyaku.
“Iya San ini adikku, namanya Tiara Nur Rahma. Di paling dekat sama aku setiap hari maunya sama aku terus dan sering kali dia minta diajari bermain piano dirumah sama aku. Bagiku dia adikku yang sangat berharga.” Jawabnya. Oh ya san kamu juga ada adik ngga’?”
“Iya ada namanya Icha Bellyna Putri sekarang kelas 2 SMP, tapi dia sekarang lagi berada di asrama. Dia ikut Pesantren jadi ya dia tinggal disana. Enak ya Syah kamu bisa bertemu dengan adikmu tiap hari. Hehehe... oh ya bawa adikmu ke kamar gih. Kan kasihan Aisyah dan Tiara nanti sama-sama cape.”
“Jangan gitu dong San, semuakan pasti ada hikmahnya. Betul? Tunggu sebentar ya San aku mau bawa Tiara ke kamar tidurnya. Kamu tunggu di sini sebentar ya. Sekalian aku panggil ibuku. Ibuku sangat ingin bertemu denganmu Ihsan sebab aku sering sekali bercerita dengan ibuku.”
Aisyah menuju kebagian dalam rumah untuk meletakkan adiknya ke kamar dan memanggil ibunya untuk menemuiku. Tak lama berselang ibunya datang melihatku yang sudah berada diruang tamu lalu aku yang duduk menyambutnya dengan bersalaman seraya menundukan kepalaku sebagai rasa hormatku padanya dan dipersilahkan duduk kembali. Sekilas dari wajahnya, Ibunya Aisyah orangnya ramah dan lembut. Aisyah pun datang juga dengan membawakan air minum untukku dan ikut bergabung. Aku hanya tersenyum dan gugup karena baru kali pertama aku berada dalam keadaan ini. Sebelumnya aku pernah namun tidak sama dengan yang sedang aku alami sekarang.
“Ini ya mbak namanya Ihsan?” tanya Ibu Aisyah kepada Aisyah.
“Iya bu, Ini Ihsan yang sering mbak ceritain sama ibu.” Jawab Aisyah. sembari menundukkan kepalanya
“Oh jadi ini nak Ihsan ya, Aisyah sering sekali cerita tentang nak Ihsan. Hampir tiap hari loh ibu dengar Aisyah cerita sama ibu.” Tanya ibu Aisyah kepadaku.
”Iya bu, perkenalkan nama saya Muhammad Ihsan Ramadhan.” Jawabku. Kemudian aku hanya tersenyum mendengar hal itu dari ibunya Aisyah.
Percakapan ini mulai mengakraban kami. Sering aku bertanya pada ibu Aisyah tentang sifat dan prilakunya selagi dia berada dirumah. Entah mengapa, aku merasakan ibunya Aisyah dan ibuku memiliki banyak persamaan sehingga aku tidak canggung untuk berbicara padanya. Aisyah hanya tersipu malu ketika ibunya menceritakan masa kecilnya dia, kebiasaan yang sering dia lakukan di rumah, dan banyak hal lainya yang tidak aku ketahui.
Satu hal yang baru aku ketahui, semula Aisyah sangat tertutup kepada setiap laki-laki karena sesuatu hal dimasa lalu ketika dia berumur 16 tahun. Waktu itu dia masih kelas X(sepuluh) diSMA 1. Pada saat pulang sekolah tepatnya sore hari dijalan raya yang sepi lengang, dia dihadang oleh dua orang yang ingin memerasnya. Aisyah melerikan diri namum doia dikejar terus menerus oleh kawanan tersebut sampai menuju toko musik yang jaraknya sekitar 500 meter dari sekolahannya. Beruntungnya pada saat itu ada seorang anak laki-laki datang membatunya ketika berada di dekat sana. Dengan sekejap dia melumpuhkan kawanan tersebut. Anak laki-laki tersebut melihat Aisyah yang kemudian pingsan dan dilarikan kerumah sakit. Dia begitu traumatis setelah kejadian itu sehingga sangat sulit berkomunikasi dengan laki-laki lain. Entah mengapa dengan aku begitu mudah itu terjadi. Tapi mendengar cerita itu aku teringat akan seorang gadis yang pernah aku bantu di dekat studio musik. Apakah benar? Gadis yang aku tolong pada saat itu memang Aisyah?
Ж Ж Ж
Komentar
Posting Komentar
Terima Kasih Atas Komentarnya. :)