Angin Simponi di kala Senin Pagi Bag.2
Beberapa menit sebelum apel dimulai, aku mencuri kesempatan untuk bertemu dengan saudaraku untuk sekedar memberikannya semangat.
“Sabil, semoga berhasil ya!”
“Amin! Makasih Ram, Semoga kamu juga berhasil!”
“Amin!”
“Fi Amanillah”
“Na’am”
Apel pagi dimulai dengan aba-aba dari ustad Mansyur. Selama upacara, suasana terasa hikmat. Sabil yang aku khawatirkan sebelumnya ternyata bisa menjalankan amanahnya dengan sangat baik. Aku kagum sekali kepadanya yang memiliki tekat yang kuat dalam dirinya.
♫♫♫
“Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar ya Ram. Padahal aku tadi grogi bukan mainloh”
“Iya sabil, Syukur Alhamdulillah kita bisa menjalankan amanah kita tadi.”
“Kamu haus? Kita ke kantin dulu yuk? Biar aku yang traktir, alhamdulillah aku punya sedikit rejeki lebih nih.”
“Sebaiknya aku saja Bil yang mentraktirmu. Kamu bisa simpan uangmu untuk sesuatu hal yang lebih penting lagi.”
“Um.. Benar juga ya kamu Ram, ku ucapin makasih ya sebelumnya.”
“Iya saudaraku, sudah selayaknya kita saling membantu satu sama lain.”
Kami berjalan menuju kantin. Tanpa sengaja kami bertemu dengan Andini siswi kelas XI Ipa 1. Dia adalah orang yang mengagumi Sabil. Menurutku Andini adalah pribadi yang menyenangkan. Orangnya ramah, santun, dan mandiri terlebih lagi wajahnya begitu menyejukkan hati. Kadang kala aku berpikir kenapa Sabil tidak memberikan perhatian khusus kepada Andini padahal yang telah aku ketahui dari Sabil, Andini pernah mengirimkan surat yang isinya ingin mengenal Sabil lebih jauh lagi.
“Assalamu’alaikum kak!” Sapa Andini kepada kami.
“Wa’alaikum salam dik!” Balas kami.
“Sendirian aja nih Din?” Tanyaku kepada Andini.
“Iya kak, Dini sendirian saja. Tadi sempet barengan temen tapi dia buru-buru mau ke kelas duluan.”
“Em begitu ya.” Sambil menepuk bahu Sabil. “Eh Sabil, kenapa gak kamu sapa si Andini.”
Dengan agak grogi Sabil menyapa Andini. “Mari Dini, kami mau beli minum dulu… em… kamu cepetan ke kelas gih, bentar lagi ke pelajaran pertama mau dimulai.”
“Iya kak, mari. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Andini pergi meninggalkan kami. Sementara itu aku mulai bertanya-tanya dengan sikap Sabil tadi. Kelihatannya ada hal yang dia sembunyikan dariku. Tapi aku tidak boleh su udzon kepada saudaraku sendiri.
“Apa yang sebenarnya yang terjadi? Entahlah aku tak tahu dan aku tak mengerti. Aku yakin Allah akan berikan jawaban itu nanti.” Pikirku di dalam hati.
Kantin sekolah kami tidak begitu besar. Hanya seluas lapangan bulu tangkis dengan empat buah kios dagang didalamnya. Kami menuju kios milik abah Ibnu seorang pedagang yang telah akrab dengan kami. Dari sosok abah Ibnu-lah Sabil menemukan kembali sosok dari ayahnya yang meninggal dunia dua tahun yang lalu akibat penyakit TBC yang tak tertangani secara tepat akibat biaya pengobatan yang terlalu mahal untuk keluarga Sabil yang saat itu tengah mengalami musibah lain yang sampai saat ini Sabil belum mau menceritakannya padaku.
“Assalamu’alaikum, Abah. Ku mahak damang atuh kabarna?”Sapa ku kepada abah dengan logat sunda di depan kiosnya.
“Wa’alaikum salam, eh ada den Rama sama Sabil. Alhamdulillah kabar abah the baik-baik saja. Kangen abah udah hampir setengah bulan gak ketemu sama kalian.” Abah pun menghampiri kami seraya memegang bahu kami secara bergantian.
Sabil tersenyum senang dan seraya dia berkata “Ah abah bisa aja, oh ya bah kami beli air mineralnya dua. Haus bener nih habis apel tadi.”
“emangnya kalian teh habis ngapain sampe bisa kehausan sagala?”
“ini bah, kami tadi habis jadi petugas apel pagi ini bah, saya jadi pemimpin apel nah kalau si Rama jadi MC-nya.”
“wuih, hebat atuh. Abah the salut sama kalian nih sebagai hadiahnya ambil aja ini air mineralnya. Abah yang traktir. Hehehe…”
“Alhamdulillah, semoga Allah mumudahkan rejeki abah. Amin…!”
“Amin…!” sahutku dan abah Ibnu.
Tak lama kemudian, bel tanda pelajaran pertama pun dimulai.
“Abah, kami pamitan dulu ya. Ayo Bil bel-nya udah bunyi tuh.”
“Iya Ram, mari bah kami pamitan dulu ya. Assalamu’alaikum”
“Mangga atuh, Wa’alaikum salam.”
Kami pun bergegas berlari menuju kelas yang jauhnya sekitar 20 meter dari kios. Namun beberapa langkah sebelum kami berlari aku teringat bahwa kami lupa berterima kasih dengan abah. Aku pun memberi kode kepadaSsabil. Untungnya dia cepet tanggap dan kami pun berhenti sejenak dan berteriak kepada abah Ibnu.
“Abah, makasih ya buat traktirannya!”
Kami melihat abah menggelengkan kepala sambil ternyum kepada kami. Sambil menepuk bahu sabil aku mengajaknya berlari menuju kekelas kami yang berada di sebelah ruangan Tata Usaha sekolah.
“Nyaris saja kita terlambat. Tadi aku lihat ustad Mahmud sudah ngasih kode supaya kita cepet masuk.”
“Iya Ram, Alhamdulillah.”
Pelajaran pertama hari ini adalah pelajaran Tarekh, pelajaran yang begitu menarik bagi kami karena dalam pelajaran ini ada banyak sejarah islam yang bisa menjadi inpirasi bukan hanya untuk kami tetapi juga untuk orang banyak.
“Eh, Ram bukannya kita punya tugas dari ustad Mahmud?”
“Astargfirullah… aku lupa Bil, laporan tugas kita tadi aku taruh di dalam tas ku.”
“Masya Allah, wah kita bisa kena marah nih? Eh, bentar dulu, kamu gak lupa bawakan?”
“Iya, hehehe….”
“Duh kamu ini, buat aku kaget aja.”
“Kamu kayak gak tau aku aja Bil.”
“Iya aku tau, tapi ini hampir kelewatan tau.”
Seminggu yang lalu, kami anak kelas XII Ipa 3 Mendapat Tugas membuat sebuah tulisan biografi tentang nabi besar Muhammad Saw, mulai dari saat beliau terlahir kedunia ini dan sampai beliau wafat. Tugas yang dibuat sama seperti diktat yang berjumlah minimal 20 lembar halaman.
Menurutku tugas yang diberikan oleh ustad Mahmud sangatlah bermanfaat. Disamping untuk mendapatkan nilai pelajaran,hal yang paling terpenting yang dapat kami peroleh yaitu kami dapat mengetahui lebih hal banyak tentang beliau, baik itu tentang tata cara beliau, sifat beliau, kearifan beliau dan lain sebagainya.
“Assalamua’alaikum warrahmatullahi wabarokatu. Sabahan Nur, anak-anak.”
“Wa’alaika salam warrahmatullahi wabarokatu. Sabahan Khoir ya ustad”
Pelajaran pertama dimulai….
♫♫♫
Dalam kehidupan ini, sering kali tidak sadar dengan apa yang kita lakukan saat ini dengan orang yang kita sayangi. Berkata “tidak apa” terkadang bukanlah suatu cara pemecahan masalah yang baik bahkan kata itu terkadang menjadi bumerang bagi diri sendiri.
Katakan keluh kesahmu pada seseorang yang membuat dirimu tidak tenang. Karena belum tentu dia tau apa yang sebenarnya yang kau mau dari dirinya. Jika dia menyayangimu maka dia akan berusaha merubah sikapnya untuk dirimu.(ISP, AHf)
~~~bersambung~~~
http://ilalangbernyanyi.blogspot.com/2011/05/syair-di-antara-ilalang.html
~~~bersambung~~~
http://ilalangbernyanyi.blogspot.com/2011/05/syair-di-antara-ilalang.html
Komentar
Posting Komentar
Terima Kasih Atas Komentarnya. :)